Sabtu, 29 April 2017

Perdagangan Luar Negeri

PERDAGANGAN LUAR NEGERI


Disusun Oleh       :
Kelompok 5
1.      Maria Claudia Putri                               (24216256)
2.      Pinondang Cynthia M.G                        (25216760)
3.      Restiyani Darajat                                    (26216217)
4.      Theresia Eka Putri                                  (27216362)
5.      Wahyuni Sri Lestari S                            (27216599)


KELAS 1EB18
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
  

PERDAGANGAN LUAR NEGERI
A.     Teori Perdagangan Internasional

Saat ini perdagangan internasional bukan hanya bermanfaat untuk bidang ekonomi saja melainkan bermanfaat untuk bidang lain seperti politik, sosial, dan pertahanan keamanan. Beberapa model atau teori perdagangan internasional yang ada:

a.      Teori Merkantilisme (Mirabeau)
Teori Merkantilisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa kemakmuran perekonomian suatu negara dengan memaksimalkan surplus perdagangan. Teori Merkantilisme mempunyai prinsip:
·         Mencari logam mulia sebanyak-banyaknya
·         Mengusahakan neraca perdagangan aktif
·         Monopoli perdagangan
·         Memperluas daerah jajahan
·         Membatasi impor dan meningkatkan ekspor



b.      Teori Keuntungan Mutlak (Adam Smith)
Teori Keuntungan Mutlak berdasarkan pada pembagian kerja internasional yang menimbulkan spesialisasi dan efisiensi produksi dalam menghasilkan suatu barang. Teori keuntungan mutlak mempunyai prinsip:
·         Kemampuan negara untuk mengembangkan produksi melalui perdagangan.
·         Macam keuntungan ada dua, yaitu karena ilmiah dan teknologi.

·         Dalam perdagangan, masing-masing negara akan mengadakan spesialisasi kerja pada produksi yang mempunyai keunggulan mutlak, yaitu jam kerja per hari yang paling kecil.

c.       Teori Keuntungan Komparatif (David Ricardo)
Teori Keuntungan Komparatif berdasarkan pada perbandingan biaya yang dikeluarkan suatu negara dalam memproduksi suatu barang dibandingkan dengan negara lain sehingga negara dengan biaya rendah akan mengimpor dan negara dengan biaya yang tinggi mengekspor barang tersebut.

d.      Teori Permintaan Timbal Balik (John Stuart Mill)
Teori Permintaan Timbal Balik sebenarnya kelanjutan dari Teori Keunggulan Komparatif yaitu melakukan kesimbangan antara permintaan dengan penawaran. Hal ini disebabkan baik itu permintaan maupun penawaran menentukan besarnya barang yang akan diekspor dan barang yang akan diimpor.

B.      Perdagangan Ekspor Indonesia
Menurut data yang didapat, perkembangan ekspor Indonesia mulai tahun 2011-2015 tidak mengalami peningkatan malah sebaliknya. Berdasarkan grafik di bawah ini, dalam kurun waktu 2011-2015, nilai ekspor Indonesia terus mengalami penurunan setiap tahunnya dari 203.496,60 juta US$ menjadi 150.252,50 juta US$ pada tahun 2015 yang lalu. Dapat disimpulkan, mulai dari tahun 2011-2015, penurunan nilai ekspor adalah sebesar 26,16%.

Gambar 1.

Perkembangan Nilai Ekspor Tahun 2011-2015 di Indonesia (juta US$)
Sumber: Diolah berdasarkan data Kementerian Perdagangan 2015


Setiap negara selalu berusaha mengembangkan nilai ekspor dari komoditas ekspor unggulannya. Perkembangan ekspor sangat penting dalam upaya peningkatan pendapatan negara yang berdampak pada perkembangan ekonomi nasional. Sejak saat itu, ekspor menjadi fokus utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada substitusi impor ke promosi ekspor. Menurut BPS, komotidi unggulan ekspor indonesia adalah di sektor Non-Migas. Sedangkan, untuk sektor Migas sendiri, perkembangannya masih sangat jauh dibawah sektor Non-Migas.


Gambar 2.

Perbandingan Nilai Ekspor Migas Non-Migas 2011-2015 di Indonesia (juta US$)

Sumber: Diolah berdasarkan data Kementerian Perdagangan 2015


C.     Tingkat Daya Saing
Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara dalam perdagangan internasional.Berdasarkan badan pemeringkat daya saing dunia, IMDWorld Competitiveness Yearbook 2006, posisi daya saing Indonesia dalam beberapa tahun semakin menurun.IMDWorld Competitiveness Yearbook (WCY) adalah sebuah laporan mengenai daya saing negara yang dipublikasikan sejak tahun 1989.Pada tahun 2000, posisi daya saing Indonesia menduduki peringkat 43 dari 49 negara.Tahun 2001 posisi daya saing Indonesia semakin menurun, yaitu menduduki peringkat 46.Selanjutnya, tahun 2002 posisi daya saingnya masih menduduki posisi bawah, yaitu peringkat 47.Lalu, tahun 2003, posisi daya saingnya malah makin terpuruk, yaitu menduduki peringkat 57.Tahun 2004 menduduki peringkat 58.Tahun 2005 Indonesia menduduki posisi 58.Tahun 2006 Indonesia telah menduduki posisi 60.

Faktor dalam menentukan daya saing menurut IMD World Competitiveness Yearbook terbagi menjadi 4 kategori yaitu, kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, infrastruktur. Setiap kategori memiliki beberapa kriteria.IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) memeringkat dan menganalisis kemampuan suatu negara dalam menciptakan dan menjaga lingkungan di mana perusahaan dapat bersaing. Persaingan akan membawa suatu negara lebih kompetitif dibandingkan dengan negara lain.






Sumber:
http://bem.feb.ugm.ac.id/perkembangan-ekspor-impor-di-indonesia/
http://eviyantikezia.blogspot.co.id/2015/05/perdagangan-luar-negeri-tingkat-daya.html


Contoh Kasus:

Produk Indonesia Jadi Pusat Perhatian di Mesir

Minggu, 23 April 2017 | 11:00 WIB

VIVA.co.id – Aneka produk Indonesia hadir dalam pameran dagang Food Africa 2017, yang berlangsung di Cairo International Convention and Exhibition, Nasr City, pada 22 – 24 April 2017. Paviliun Indonesia menampilkan berbagai produk pangan dan minuman Indonesia, seperti kopi, hasil olahan kelapa sawit, rempah-rempah, serta kacang-kacangan.

Perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam Food Africa 2017 adalah PT Kapal Api Global dengan produknya kopi dan permen jahe, PT AK Goldenesia (kelapa sawit); CV Alwadi (rempah-rempah); dan PT Dua Kelinci (produk kacang dan makanan ringan).

Selain itu, Paviliun Indonesia juga diisi oleh beberapa perusahaan Mesir yang merupakan distributor produk Indonesia, yaitu Haggag Co. for Export and Import; Al Kalla Import & Export Co.; Egyptian Saudi. Co. for Import & Export; dan Al Ahram Foundation.

"Ini adalah kali kedua Indonesia berpartisipasi dalam pameran. Kami ingin mengajak masyarakat Mesir untuk dapat melihat langsung produk-produk berkualitas dari Indonesia dan bertemu langsung dengan pengusaha Indonesia untuk menjalin peluang bisnis makanan dan minuman," ujar Duta Besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzy dikutip dari keterangan resminya, Minggu 23 April 2017. 

Beberapa produk makanan dan minuman Indonesia, seperti Indomie, permen Kopiko, kopi Tora Bika, dan Danisa butter cookies sudah sejak lama beredar di Mesir dan Timur Tengah, dan cukup digemari oleh masyarakat setempat. Beberapa perusahaan Indonesia yang berpartisipasi dalam pameran ini memang tengah membidik pasar Timur Tengah dan Afrika, khususnya Mesir dan negara-negara di sekitarnya.

Sebagai hub perdagangan di kawasan Timur Tengah dan Afrika, potensi pangsa pasar di Mesir tidak hanya terdapat pada jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 90 juta orang, namun juga pada 1,6 milyar penduduk Afrika, Timur Tengah, dan Eropa, yang terhubung melalui Mesir.

"Kami mendorong eksportir Indonesia untuk melakukan ekspansi ke Mesir, karena Mesir memiliki nilai strategis sebagai hub perdagangan di kawasan Afrika, Timur Tengah, bahkan juga Eropa," tambahnya.

Pameran Food Africa sendiri tahun ini telah digelar di Cairo untuk kali ketiga, dan kembali diikuti oleh ratusan perusahaan dari berbagai negara, seperti Indonesia, China, Polandia, Malaysia, Spanyol, Belarus, Maroko, Myanmar, dan Thailand.

Pameran yang digelar selama tiga hari di hall terbesar di Mesir itu dibuka oleh Menteri Perdagangan, Industri, dan UKM Mesir, Tareq Qabil, dan Menteri Distribusi dan Perdagangan Dalam Negeri Mesir, Khaled Hanafy. Keduanya juga menyempatkan diri berkunjung ke Paviliun Indonesia beberapa saat setelah pameran dibuka.

Partisipasi Indonesia dalam Food Africa 2017 terselenggara atas kerja sama Kementerian Perdagangan RI dan KBRI Cairo. Keikutsertaan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan 70 tahun Hubungan Bilateral RI – Mesir. Persahabatan kedua negara terjalin dengan sangat erat, dan Mesir merupakan salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Hingga saat ini, Mesir juga merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dimana surplus perdagangan Indonesia dengan Mesir pada tahun 2016 mencapai US$758 juta. Adapun pada tahun 2016, Indonesia menempati urutan ke-26 mitra dagang utama Mesir, dengan total perdagangan mencapai US$1,46 miliar.

SUMBER: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/908255-produk-indonesia-jadi-pusat-perhatian-di-mesir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar