PERDAGANGAN LUAR NEGERI
Disusun
Oleh :
Kelompok 5
1. Maria Claudia Putri (24216256)
2. Pinondang Cynthia M.G (25216760)
3. Restiyani Darajat (26216217)
4. Theresia Eka Putri (27216362)
5. Wahyuni Sri Lestari S (27216599)
KELAS 1EB18
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN
AKUNTANSI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
PERDAGANGAN LUAR NEGERI
A.
Teori Perdagangan Internasional
Saat ini perdagangan internasional bukan hanya bermanfaat
untuk bidang ekonomi saja melainkan bermanfaat untuk bidang lain seperti
politik, sosial, dan pertahanan keamanan. Beberapa model atau teori perdagangan
internasional yang ada:
a.
Teori Merkantilisme (Mirabeau)
Teori Merkantilisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa
kemakmuran perekonomian suatu negara dengan memaksimalkan surplus perdagangan.
Teori Merkantilisme mempunyai prinsip:
· Mencari logam mulia sebanyak-banyaknya
· Mengusahakan neraca perdagangan aktif
· Monopoli perdagangan
· Memperluas daerah jajahan
· Membatasi impor dan meningkatkan ekspor
b.
Teori Keuntungan Mutlak (Adam Smith)
Teori Keuntungan Mutlak berdasarkan pada pembagian kerja
internasional yang menimbulkan spesialisasi dan efisiensi produksi dalam
menghasilkan suatu barang. Teori keuntungan mutlak mempunyai prinsip:
·
Kemampuan
negara untuk mengembangkan produksi melalui perdagangan.
·
Macam
keuntungan ada dua, yaitu karena ilmiah dan teknologi.
·
Dalam
perdagangan, masing-masing negara akan mengadakan spesialisasi kerja pada
produksi yang mempunyai keunggulan mutlak, yaitu jam kerja per hari yang paling
kecil.
c.
Teori Keuntungan Komparatif (David Ricardo)
Teori Keuntungan Komparatif berdasarkan pada perbandingan
biaya yang dikeluarkan suatu negara dalam memproduksi suatu barang dibandingkan
dengan negara lain sehingga negara dengan biaya rendah akan mengimpor dan
negara dengan biaya yang tinggi mengekspor barang tersebut.
d.
Teori Permintaan Timbal Balik (John Stuart Mill)
Teori Permintaan Timbal Balik sebenarnya kelanjutan dari
Teori Keunggulan Komparatif yaitu melakukan kesimbangan antara permintaan
dengan penawaran. Hal ini disebabkan baik itu permintaan maupun penawaran
menentukan besarnya barang yang akan diekspor dan barang yang akan diimpor.
B.
Perdagangan Ekspor
Indonesia
Menurut data
yang didapat, perkembangan ekspor Indonesia mulai tahun 2011-2015 tidak
mengalami peningkatan malah sebaliknya. Berdasarkan grafik di bawah ini, dalam
kurun waktu 2011-2015, nilai ekspor Indonesia terus mengalami penurunan setiap
tahunnya dari 203.496,60 juta US$ menjadi 150.252,50 juta US$ pada tahun 2015
yang lalu. Dapat disimpulkan, mulai dari tahun 2011-2015, penurunan nilai
ekspor adalah sebesar 26,16%.
Gambar 1.
Perkembangan
Nilai Ekspor Tahun 2011-2015 di Indonesia (juta US$)
Sumber: Diolah berdasarkan data Kementerian Perdagangan 2015
Setiap negara selalu berusaha mengembangkan nilai ekspor
dari komoditas ekspor unggulannya. Perkembangan ekspor sangat penting dalam
upaya peningkatan pendapatan negara yang berdampak pada perkembangan ekonomi
nasional. Sejak saat itu, ekspor menjadi fokus utama dalam memacu pertumbuhan
ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari penekanan pada
substitusi impor ke promosi ekspor. Menurut BPS, komotidi unggulan ekspor
indonesia adalah di sektor Non-Migas. Sedangkan, untuk sektor Migas sendiri,
perkembangannya masih sangat jauh dibawah sektor Non-Migas.
Gambar 2.
Perbandingan Nilai Ekspor Migas Non-Migas 2011-2015 di
Indonesia (juta US$)
Sumber: Diolah berdasarkan data Kementerian Perdagangan 2015
C.
Tingkat Daya Saing
Daya saing
merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara dalam
perdagangan internasional.Berdasarkan badan pemeringkat daya saing dunia,
IMDWorld Competitiveness Yearbook 2006, posisi daya saing Indonesia dalam
beberapa tahun semakin menurun.IMDWorld Competitiveness Yearbook (WCY) adalah
sebuah laporan mengenai daya saing negara yang dipublikasikan sejak tahun
1989.Pada tahun 2000, posisi daya saing Indonesia menduduki peringkat 43 dari
49 negara.Tahun 2001 posisi daya saing Indonesia semakin menurun, yaitu
menduduki peringkat 46.Selanjutnya, tahun 2002 posisi daya saingnya masih
menduduki posisi bawah, yaitu peringkat 47.Lalu, tahun 2003, posisi daya
saingnya malah makin terpuruk, yaitu menduduki peringkat 57.Tahun 2004
menduduki peringkat 58.Tahun 2005 Indonesia menduduki posisi 58.Tahun 2006
Indonesia telah menduduki posisi 60.
Faktor
dalam menentukan daya saing menurut IMD World Competitiveness Yearbook terbagi
menjadi 4 kategori yaitu, kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi
bisnis, infrastruktur. Setiap kategori memiliki beberapa kriteria.IMD World
Competitiveness Yearbook (WCY) memeringkat dan menganalisis kemampuan suatu
negara dalam menciptakan dan menjaga lingkungan di mana perusahaan dapat
bersaing. Persaingan akan membawa suatu negara lebih kompetitif dibandingkan
dengan negara lain.
Sumber:
http://bem.feb.ugm.ac.id/perkembangan-ekspor-impor-di-indonesia/
http://eviyantikezia.blogspot.co.id/2015/05/perdagangan-luar-negeri-tingkat-daya.html
Contoh Kasus:
Produk Indonesia Jadi
Pusat Perhatian di Mesir
Minggu, 23 April 2017 | 11:00 WIB
VIVA.co.id – Aneka produk Indonesia
hadir dalam pameran dagang Food Africa 2017, yang berlangsung di Cairo
International Convention and Exhibition, Nasr City, pada 22 – 24 April 2017.
Paviliun Indonesia menampilkan berbagai produk pangan dan minuman Indonesia,
seperti kopi, hasil olahan kelapa sawit, rempah-rempah, serta kacang-kacangan.
Perusahaan Indonesia yang
berpartisipasi dalam Food Africa 2017 adalah PT Kapal Api Global dengan
produknya kopi dan permen jahe, PT AK Goldenesia (kelapa sawit); CV Alwadi
(rempah-rempah); dan PT Dua Kelinci (produk kacang dan makanan ringan).
Selain itu, Paviliun Indonesia juga
diisi oleh beberapa perusahaan Mesir yang merupakan distributor produk
Indonesia, yaitu Haggag Co. for Export and Import; Al Kalla Import & Export
Co.; Egyptian Saudi. Co. for Import & Export; dan Al Ahram Foundation.
"Ini adalah kali kedua
Indonesia berpartisipasi dalam pameran. Kami ingin mengajak masyarakat Mesir
untuk dapat melihat langsung produk-produk berkualitas dari Indonesia dan
bertemu langsung dengan pengusaha Indonesia untuk menjalin peluang bisnis
makanan dan minuman," ujar Duta Besar Indonesia untuk Mesir Helmy Fauzy
dikutip dari keterangan resminya, Minggu 23 April 2017.
Beberapa produk makanan dan minuman
Indonesia, seperti Indomie, permen Kopiko, kopi Tora Bika, dan Danisa butter
cookies sudah sejak lama beredar di Mesir dan Timur Tengah, dan cukup digemari
oleh masyarakat setempat. Beberapa perusahaan Indonesia yang berpartisipasi
dalam pameran ini memang tengah membidik pasar Timur Tengah dan Afrika, khususnya
Mesir dan negara-negara di sekitarnya.
Sebagai hub perdagangan di kawasan
Timur Tengah dan Afrika, potensi pangsa pasar di Mesir tidak hanya terdapat
pada jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 90 juta orang, namun juga
pada 1,6 milyar penduduk Afrika, Timur Tengah, dan Eropa, yang terhubung
melalui Mesir.
"Kami mendorong eksportir
Indonesia untuk melakukan ekspansi ke Mesir, karena Mesir memiliki nilai
strategis sebagai hub perdagangan di kawasan Afrika, Timur Tengah, bahkan juga
Eropa," tambahnya.
Pameran Food Africa sendiri tahun
ini telah digelar di Cairo untuk kali ketiga, dan kembali diikuti oleh ratusan
perusahaan dari berbagai negara, seperti Indonesia, China, Polandia, Malaysia,
Spanyol, Belarus, Maroko, Myanmar, dan Thailand.
Pameran yang digelar selama tiga
hari di hall terbesar di Mesir itu dibuka oleh Menteri Perdagangan, Industri,
dan UKM Mesir, Tareq Qabil, dan Menteri Distribusi dan Perdagangan Dalam Negeri
Mesir, Khaled Hanafy. Keduanya juga menyempatkan diri berkunjung ke Paviliun
Indonesia beberapa saat setelah pameran dibuka.
Partisipasi Indonesia dalam Food
Africa 2017 terselenggara atas kerja sama Kementerian Perdagangan RI dan KBRI
Cairo. Keikutsertaan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian peringatan
70 tahun Hubungan Bilateral RI – Mesir. Persahabatan kedua negara terjalin
dengan sangat erat, dan Mesir merupakan salah satu negara pertama yang mengakui
kemerdekaan Indonesia.
Hingga saat ini, Mesir juga
merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dimana surplus perdagangan
Indonesia dengan Mesir pada tahun 2016 mencapai US$758 juta. Adapun pada tahun
2016, Indonesia menempati urutan ke-26 mitra dagang utama Mesir, dengan total
perdagangan mencapai US$1,46 miliar.
SUMBER: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/908255-produk-indonesia-jadi-pusat-perhatian-di-mesir